Facebook

Kisah Bocah Papan Hanyut


INI kisah satu keluarga korban tsunami Aceh. Pasangan ini tak pernah kehilangan harapan kalau dua anak mereka, yang hilang saat gelombang laut menerjang daratan, masih hidup. Harapan mereka akhirnya terwujud menjelang peringatan 10 tahun tsunami. Keajaiban pun datang. Bukan hanya sekali, tapi dua keajaiban.

MINGGU, 26 Desember 2004. Jarum jam tepat pada angka 07:58 Wib. Bumi terguncang hebat. Pria 42 tahun itu masih rebahan di tempat tidur. Matanya terpejam. Usai melaksanakan shalat Shubuh pukul 6:05 Wib, Septi Rangkuti memilih tidur lagi karena hari itu tidak bekerja. Kain sarung yang digunakan untuk shalat masih dikenakannya.
Ia membangunkan dua putranya – Zahry Rangkuti, 8 tahun, dan Arif Pratama Rangkuti, 7 tahun – yang terlelap di kamar sebelah. Putri semata wayangnya, Raudhatul Jannah, 4,5 tahun, yang asyik bermain boneka di ruang keluarga, segera digendongnya.
Mereka secepatnya lari keluar melalui pintu belakang rumah, yang terletak di Lorong Kangkung, Desa Panggong, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat. Istrinya, Jamaliah, 32 tahun, yang sejak pukul 6:30 Wib mencuci pakaian di sumur sudah duluan keluar begitu gempa mengguncang.
Mereka berlima berdiri di samping rumah toko lantai dua yang belum selesai, tepat di belakang rumahnya. Karena guncangan bumi sangat dahsyat, mereka terpaksa harus duduk di tanah. Seorang warga yang berdiri di jalan, tak begitu jauh dari mereka, berteriak, “Jangan di situ, nanti roboh.”
Septi yang merangkul Arif dan Raudha bangkit. Begitu juga dengan Jamaliah, yang memegang Zahry. Dengan sempoyongan, mereka berlima tertatih ke tengah jalan, tempat sejumlah warga duduk. Semua berzikir. Mulut mereka tak henti mengucapkan, “Lailahaillallah.” Dua menit berselang, lantai dua rumah toko, tempat keluarga Septi pertama duduk, ambruk.
Kekuatan gempa bumi pagi itu awalnya dicatat 8,9 Skala Richter. Pusatnya di kedalaman Samudera Hindia, lepas pantai barat Pulau Sumatera. Belakangan, para ilmuan merevisi kekuatan gempa teknonik itu menjadi 9,3 Skala Richter. Guncangan kuat berlangsung selama delapan menit lebih.
Belasan menit berselang, tsunami menerjang hampir 1.000 kilometer pesisir Aceh. Gelombangnya menyapu 15 negara di sepanjang garis pantai Samudera Hindia hingga mencapai Benua Afrika. Tak kurang 234.000 orang, termasuk 170.000 lebih warga Aceh, tewas dalam bencana paling dahsyat dalam sejarah modern manusia.
Di provinsi ujung barat Indonesia, yang sedang dirundung konflik bersenjata antara pasukan keamanan TNI/Polri dan gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), tingkat kerusakannya mencapai antara satu hingga enam kilometer ke daratan, meluluhlantakkan berbagai infrastruktur, meratakan kampung-kampung nelayan. Perekonomian rakyat lumpuh. Lebih dari 550.000 warga Aceh terpaksa harus mengungsi.
Saat gempa reda, Septi masuk ke rumah. Beberapa perabotan rumah jatuh ke lantai. Dia tak berusaha membereskan. Setelah menggantikan sarung dengan celana, dia bergegas mengeluarkan sepeda motor Suzuki 120cc. Septi segera bergabung dengan istri dan tiga buah hati hasil perkawinan yang telah mereka bina sejak tahun 1994.
Di tengah kekhawatiran dan ketakutan akan terjadi gempa susulan, terdengar teriakan dari kejauhan, “Air laut naik!” “Air laut naik!” “Air laut naik!” Orang-orang berlarian ke arah jauh dari laut. Septi menghidupkan sepeda motornya. Dia meraih Raudha, didudukkan paling depan. Arif diletakkannya antara dia dan Raudha. Zahry naik dan duduk di belakangnya. Jamaliah berada di posisi paling belakang.
Septi memacu sepeda motor melintasi pasar tradisional yang padat pembeli. Tapi, hanya 1,5 kilometer dia mengendarai Suzuki merah, yang dibelinya tiga tahun silam. Arus lalu lintas semakin padat. Sepeda motornya tak bisa dilalui lagi, karena macet. Mereka terpaksa berhenti di tengah kerumunan mobil, sepeda motor dan orang-orang yang berlarian.
Tiba-tiba dari sisi kanan, mereka melihat gelombang laut menerjang. Tapi tak terlalu tinggi. Mereka turun dari sepeda motor. Dalam hitungan detik, air laut berwarna hitam menghantam keluarga itu dan warga yang dalam kepanikan. Septi merangkul Raudha dan Arif. Istrinya memegang Zahry. Mereka diseret ombak laut.
Tak berapa lama, gelombang kedua lebih tinggi menerjang. Septi, yang masih mendekap Raudha dan Arif, melihat sepotong papan hanyut – antara puing rumah dan bangunan yang diseret arus – menuju ke arahnya. “Mungkin daun pintu rumah orang,” katanya. Secara reflek, dia letakkan Raudha dan Arif ke papan itu. Septi masih sempat berenang sambil memegang papan itu.
Lalu, gelombang kembali menghantam Meulaboh, ibukota Aceh Barat. Papan terlepas dari tangannya. Sebelum digulung ombak raya, Septi masih sempat mendengar panggilan dua buah hatinya, “Ayah!” Tubuhnya diputar-putar di bawah pusaran air laut berwarna hitam. Beberapa kali, dia timbul tenggelam. Septi hanya bisa pasrah dan berdoa.
Septi kembali muncul ke permukaan. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia berusaha berenang agar tidak lagi ditarik ke pusaran air. Dilihatnya sebatang pohon kuini, yang terpaut 10 meter. Ternyata, air laut telah menyeretnya satu kilometer lebih dari tempat dia menghentikan sepeda motor. Perlahan, Septi berenang, berusaha mencapai pohon itu. Dia berhasil.
Di atas batang kuini, Septi mengumpulkan tenaga. Beberapa bagian tubuhnya penuh luka akibat tergores puing rumah yang dihumbalang ombak raya. Baju dan celananya robek. Ia tak peduli kondisinya. Dalam hati, Septi terus berdoa pada Allah agar diberi kekuatan dan keselamatan. Tujuh menit dia bertahan di pohon kuini.
Terpaut delapan meter dari batang kuini, Septi melihat jejeran toko berlantai dua yang belum selesai dibangun. Sejumlah warga telah duluan berada di situ, menyelamatkan diri. Beberapa orang memanggilnya, supaya berenang ke toko itu. Dengan perasaan was-was akan kembali datang gelombang, sambil terus berdoa, Septi berenang ke toko lantai dua. Begitu mendekat, beberapa warga segera menariknya.
“Saya hanya duduk bersender di dinding toko dan tak bicara sepatah kata pun dengan orang-orang di situ. Pikiran saya seperti hampa dan tak teringat apa-apa. Saya juga tak ingat istri saya dan anak-anak,” kata Septi, sambil berusaha menahan tangis saat menceritakan kembali kejadian hampir satu dekade lalu.
Pertengahan Oktober silam, acehkita.com menyambangi keluarga Septi, yang tinggal sementara di sebuah rumah, sejak akhir Agustus lalu. Rumah di ujung Lorong Kangkung, Desa Panggong, itu milik bibi Jamaliah. Rumah bantuan NGO asing tersebut hanya terpaut sepelemparan batu dari tempat keluarga Septi tinggal selama 10 tahun sebelum tsunami. Di bekas lokasi rumah peninggalan nenek Jamaliah itu kini ditempati adik kandungnya, Samsul bersama istri dan anak-anaknya.
Sementara itu, Jamaliah memeluk erat tubuh Zahry ketika gelombang laut pertama menghantam Kota Meulaboh. Gempuran ombak hitam pekat tersebut menggulung ibu-anak ini. Jamaliah semakin mencengkram Zahry. Ia tak ingin berpisah dengan putra sulungnya itu. Beberapa kali mereka timbul tenggelam dalam pusaran ombak, yang dipenuhi puing bangunan. Mereka masih berpengangan.
Tiba-tiba, tubuh Zahry seperti ada yang menarik dari tangan ibunya. Terlepas. Jamaliah kembali digulung dalam pusaran ombak. Zahry berhasil mencapai atap sebuah rumah berlantai dua setelah ditarik beberapa warga, yang lebih dulu menyelamatkan diri. Zahry mencari ibunya, tapi tak ada di situ. Seorang pamannya yang kebetulan selamat di atap rumah itu menenangkan Zahry. Sementara sebelumnya, Jamaliah sudah terpisah dengan suaminya, Septi, dan kedua anak mereka: Arif dan Raudha.
“Saat digulung ombak itulah, saya terus berdoa kepada Allah. Kalau memang saat ini ajal saya, saya sudah siap. Saya juga bermohon agar diberikan umur panjang,” kata Jamaliah, sambil mengusap butiran air mata yang membasahi pipinya ketika mengisahkan kembali kejadian tragis dialaminya.
Ia kembali ditarik dalam pusaran air hitam, beberapa kali. Tiba-tiba, Jamaliah seperti punya kekuatan. Tumpukan puing bangunan di sekelilingnya terseret ombak. Tubuhnya, terangkat ke permukaan gelombang, menghantam dinding lantai dua sebuah rumah. Dengan sisa tenaga, ia pegang erat-erat bagian atap rumah itu sambil berusaha memanjat. Dua warga segera menariknya ke atap.
Ternyata di situ, ada Zahry yang lebih dulu ditolong warga. Jamaliah segera memeluk putra sulungnya. Ia tak bisa menahan tangis. Zahry ikut menangis. Sepupunya berusaha membujuk Jamaliah agar tetap tenang dan berdoa. “Dari atap rumah itu, saya melihat orang-orang, dan rumah-rumah hancur, diseret gelombang,” tutur Jamaliah.
Sekitar pukul 16:30 Wib, air laut yang menggenangi Meulaboh surut sudah. Melihat warga lain turun dari atap, Jamaliah dan anaknya juga turun. Mereka menyusuri Jalan Nasional di antara puing dan sampah yang diseret tsunami. Keduanya menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan di jalan, tak ada yang peduli. Memegang tangan Zahry, dalam kebingungan Jamaliah terus berjalan, tanpa arah.
Pada saat bersamaan, Septi masih duduk di lantai dua toko. Dia trauma berat dan tetap duduk sendiri, padahal semua warga lain sudah turun. Seperti ada yang perintah, dia bangkit. Tak sengaja, pandangannya diarahkan ke Jalan Nasional yang penuh tumpukan sampah. Dia lihat mayat-mayat berserakan di jalan.
Tiba-tiba di antara orang-orang yang linglung berjalan, Septi melihat istri dan putra sulungnya. “Zahry, Zahry, ayah di sini,” teriaknya, dengan suara parau. Mendengar namanya dipanggil, Zahry dan Jamaliah mendongak kepala ke arah panggilan. Mereka segera naik ke lantai dua toko, tempat Septi berada. Ketiganya saling berangkulan, sambil menangis.
“Arif dan Raudha terlepas dari tangan saya setelah saya letakkan di papan,” kata Septi kepada istrinya saat Jamaliah bertanya dimana kedua anak mereka, yang dipegang suaminya. “Sudah, jangan tanya lagi. Kita doakan saja semoga mereka selamat.” Jamaliah pun terdiam. Mereka hanya bisa menangis lagi.
Akhirnya mereka bertiga turun dari lantai dua toko. Apalagi ada imbauan dari anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) melalui pengeras suara agar semua warga pergi Masjid Rundeng, yang dijadikan tempat penampungan darurat sementara. Di sini, personil TNI membagikan roti dan air mineral buat warga yang selamat dari bencana – termasuk Septi, Jamaliah, dan Zahry. Seorang teman Septi yang tinggal dekat Masjid Rundeng memberikan pakaian kepada mereka.
Tetapi, keluarga Septi hanya bertahan di masjid itu dua jam. Pasalnya, banyak warga memilih pergi ke tempat jauh dari pusat Kota Meulaboh, yang mulai gelap gulita. Mereka pun ikut-ikutan pergi. Melihat ada sebuah mobil pick up berhenti di depan masjid, ketiganya bersama warga lain berebut naik. “Yang terpenting waktu itu, jauh dari kota karena kami benar-benar takut. Apalagi gempa masih sering terjadi,” ujar Jamaliah.
Selama dalam perjalanan, Septi memilih diam. Jamaliah terus memikirkan dua anaknya. Dalam hati, ia berdoa agar kedua anaknya selamat. Zahry hanya memegang pergelangan tangan ayahnya. Dia juga diam. Suasana dalam mobil pick up senyap, tidak ada warga berbicara. Mereka seolah larut dalam pikiran masing-masing usai mengalami tragedi memilukan.
Mobil yang mengangkut mereka berhenti di Pesantren Abu Usman, Gunung Mas, Kecamatan Kaway XVI. Di situ, banyak warga berkumpul. Warga sekitar sibuk menyiapkan makanan untuk para korban yang selamat dari gelombang raya. Usai shalat, warga makan. Jelang tengah malam, Septi dan keluarganya tidur bersama warga lain dalam kelas, beralaskan lantai semen di pesantren itu.

***

SENIN, 27 Desember 2004. Sekitar pukul 07:30 Wib, Jamaliah bergegas naik ke sebuah pick up. Ia mau mencari dua buah hatinya, Arif dan Raudha. Mobil, yang parkir di pesantren, siap mengantar warga selamat dari tsunami ke Meulaboh. Sejumlah warga telah duluan duduk di bak terbuka pick up. Mobil bergerak, meninggalkan kawasan Gunung Mas.
Setelah menurunkan penumpang hingga batas bisa dilalui kendaraan di ujung jalan, mobil balik arah. Kembali ke pesantren untuk mengangkut warga lain. Jamaliah menyusuri jalan, sendiri. Setiap mayat anak yang dijejer di pinggir jalan didekatinya, untuk mengecek. Kerumunan warga didatanginya. Namun, yang dicarinya, tak ditemukan. Menjelang Maghrib, ia kembali ke pesantren, menumpang mobil pick up, bersama warga lain.
Hari itu, Septi dan Zahry bertahan di pesantren. Septi masih sangat trauma. Ia hanya termenung saja, enggan berbicara. Zahry membawa ayahnya, untuk mengobati luka-luka goresan, ke tim medis yang mendirikan posko kesehatan di Dayah Abu Usman. Usai mendapatkan obat-obatan, Septi kembali ke kelas, istirahat sambil tidur-tiduran.
Keesokan harinya, Jamaliah kembali lagi ke Meulaboh. Tempat pengungsian, di seputaran ibukota Aceh Barat, didatanginya. Hari ketiga dan selanjutnya, Zahry mulai menemaninya. Usaha mereka mencari Arif dan Raudha nihil.
Septi baru ikut ke Meulaboh pada hari kelima. Mereka menyusuri jalanan dan mendatangi tempat-tempat pengungsian. Rumah Sakit Cut Nyak Dhien tak lupa mereka singgahi. Tidak ada infomasi keberadaan kedua anak mereka. Raudha dan Arif bagai lenyap ditelan bumi.
Setelah dua minggu mencari, mereka memutuskan pergi ke rumah Zainuddin, abang tiri Jamaliah, di Desa Padang Baro, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya. Menumpang sebuah mobil, yang kebetulan pergi ke Aceh Barat Daya, mereka tiba di Padang Baro, menjelang senja. Ternyata, di rumah Zainuddin masih tersimpan foto Arif dan Raudha.
Esoknya mereka kembali ke Meulaboh. Zainuddin ikut membantu mencari Arif dan Raudha. Seminggu, mereka bolak balik Padang Baro dan Meulaboh. Hasilnya tetap nihil. Atas saran Zainuddin, mereka memutuskan meminta bantuan “orang pintar” – seorang lelaki tua dekat Meulaboh. Tak lupa mereka membawa foto Arif dan Raudha.
“Kakek itu bilang, kedua anak kami masih hidup. Dia berada di daerah arah matahari terbit. Jika dalam seminggu tak ketemu, anak-anak kami diambil orang,” jelas Jamaliah, mengenang upaya pencarian Raudha dan Arif.
Mendapat informasi demikian, besoknya mereka pergi ke Tapaktuan, ibukota Kabupaten Aceh Selatan. Mereka bawa foto Arif dan Raudha. Setiap orang ditemui, mereka tanya sambil menunjukkan foto. Beberapa lokasi, setelah mendapatkan informasi keberadaan anak korban tsunami, mereka datangi.
Tapi Arif dan Raudha tak ditemukan. Sebulan berada di rumah Zainuddin, keluarga Septi memutuskan kembali ke Meulaboh. Mereka tinggal di tempat pengungsian bersama warga lain, sambil terus mencari Arif dan Raudha.
Suatu hari, dua bulan usai tsunami, Hamdan Rangkuti, seorang adik kandung Septi, datang ke Meulaboh. Setelah menemukan Septi, adiknya mengabarkan jika ibu mereka, Karsitem –yang tinggal di Desa Paringgonan, Kecamatan Ulu Barumum, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara— setiap hari menangis karena tak ada kabar dari Septi, putra tertuanya, dan keluarganya.
“Ibu berpesan jika adik menemukan kami agar membawa pulang ke kampung halaman saya,” tutur Septi. Akhirnya, mereka memutuskan pulang ke tanah kelahiran Septi. Apalagi, tinggal di pengungsian serba kekurangan dan rumah mereka di Desa Panggong, tak dapat ditempati lagi karena rusak parah.
“Ketika meninggalkan Meulaboh, saya sangat yakin kedua anak kami masih hidup,” jelas Jamaliah. “Saya sangat yakin suatu hari nanti, akan menemukan mereka.”
Keyakinan yang sama juga diungkapkan Septi dan Zahry. Ketiganya mengaku tak terbersit sedikitpun pikiran kalau Raudha dan Arif ikut menjadi korban tsunami, bersama ribuan warga Meulaboh.
Beberapa hari berlalu, warga Paringonan berinisiatif membangun satu rumah untuk keluarga Septi, secara gotong royong. Dalam tiga hari, rumah ukuran 4 x 3 meter telah berdiri, siap ditempati. Hanya ada satu kamar tidur dan satu ruangan keluarga, yang juga dipakai buat memasak. Lantai beralaskan tanah. Atapnya dari daun rumbia, tanpa plafon.
“Kayu untuk tiang diambil di hutan dekat kampung. Sebagian dindingnya dari kayu bekas yang masih bisa dipakai. Malah, ada satu bagian dinding dari meja badminton bekas,” jelas Septi, sambil tersenyum.
Meski sudah punya tempat tinggal serba darurat, Septi tetap termenung. Dia masih trauma dan enggan bekerja. Tiga tahun lebih, dia hanya di rumah saja, tanpa berusaha mencari nafkah untuk keluarganya. Melihat kondisi suaminya begitu, Jamaliah memutuskan bekerja untuk menghidupi keluarga.
Lalu, ia membuka warung nasi pinggir jalan. Jamaliah juga menerima jahitan pakaian, pekerjaan sampingan yang dilakoninya ketika mereka masih tinggal di Meulaboh, untuk menambah keuangan keluarga.
Hari terus berganti. Kehidupan harus dijalani. Hari-hari dijalani Septi dengan berada di rumah. Jamaliah berjualan di kedai. Zahry melanjutkan sekolahnya. Prestasinya lumayan. Setiap semester, dia selalu masuk rangking 10 besar.
“Saya sangat sedih melihat ayah setiap hari hanya termenung saja di rumah,” kenang Zahry, remaja pendiam yang suka menulis puisi, kepada acehkita.com yang mewawancarainya sambil menikmati secangkir kopi di sebuah kedai, tak jauh dari rumah mereka tinggal sementara.
Tak ada niat keluarga Septi untuk kembali ke Meulaboh yang sedang booming proses rehabilitasi dan rekonstruksi paska-tsunami. Padahal saat itu, keahlian Septi sebagai tukang instalasi listrik sangat dibutuhkan karena banyak rumah warga korban tsunami sedang dibangun.
25 Agustus 2007, Jamaliah melahirkan anak keempat. Mereka memberi nama Jumadil Rangkuti. Warung Jamaliah dikelola seorang famili Septi beberapa bulan saat pemiliknya harus istirahat usai melahirkan. Jamaliah hanya pasrah melihat suaminya yang tetap tak mau bekerja.
Setelah Jumadil berusia dua tahun, Septi mulai bangkit dari keterpukuran. Ia sering bercanda dengan sang jabang bayi. Septi juga mulai mau bekerja, menginstalasi listrik. Semangatnya perlahan pulih. Setahun lebih kemudian, saat usia Jumadil hampir empat tahun, seorang abang sepupunya mengajak Septi mendirikan perusahaan instalasi listrik berbentuk CV.
“Sejak saat itu, saya tak trauma lagi,” ujarnya.

***

SABTU, 21 Juni 2014. Sekitar pukul 10:00 Wib, Zainuddin, 59 tahun, mengisi pulsa di sebuah kedai Gampong Padang Baro. Kemudian, kakinya melangkah ke warung kopi pinggir jalan, milik Rosmani. Di kedai papan ukuran 3 x 4 meter, seorang pria sedang menikmati kopi. Keduanya terlibat pembicaraan santai.
Tiga anak perempuan berjalan santai, menghampiri warung. Mereka gembira sambil bercanda. Ros – panggilan akrab Rosmani – memanggil seorang dari anak-anak yang baru menerima rapor dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Pawoh Padang. Yang dipanggil mendekat. Bocah pemalu itu dikenal dengan nama Weniati, 14 tahun.
Keduanya larut dalam canda usai Rosmani memperhatikan isi rapor Weniati. Sesekali tangan Rosmani membelai kepala Weni, begitu dia biasa dipanggil. Bocah itu terus mengumbar senyum bahagia karena kali ini dia tidak tinggal kelas. Rosmani dan Weni akrab karena mereka bertetangga di Gampong Pulo Kayu, yang bersebelahan dengan Padang Baro.
Mereka duduk di bangku panjang semeter dalam warung, tak jauh dari posisi Zainuddin dan rekannya. Zainuddin memperhatikan candaan Ros dan Weni. Tanpa sepengetahuan Ros dan Weni, Zainuddin mengaku menyaksikan satu kejadian yang membuat jantungnya berdegup kencang.
“Sebagian rambut anak itu tersibak dari jilbab. Lalu dua helai rambut jatuh ke pahanya,” ujar Zainuddin, lelaki ramah yang sehari-hari bekerja sebagai sopir alat berat.
Ia segera teringat mimpinya pada suatu malam, beberapa hari sebelumnya. Dalam mimpi itu, Zainuddin mengaku didatangi seorang gadis kecil yang langsung duduk di pangkuannya. Sang bocah hanya diam saja, sambil tersenyum.
“Tiba-tiba sehelai rambutnya jatuh ke pangkuannya, sama persis seperti yang saya lihat ketika Ros bersenda dengan Weni,” ungkap Zainuddin, saat ditemui acehkita.com di rumahnya, akhir Oktober lalu.
Sambil menghembus asap rokok, Zainuddin bertanya, “Anak siapa itu, Ros?” Yang ditanya menjawab, “Anak tsunami. Kedua orangtuanya meninggal dunia saat tsunami dulu.” Ros melanjutkan cerita bahwa anak itu dibawa dari Pulau Banyak oleh Mustamir, seorang nelayan di Pulo Kayu, awal tahun 2006.
Zainuddin tak ingin berlama-lama di warung Ros. Kopi yang tinggal setengah gelas diseruputnya sampai habis. Nikmatnya rasa kopi, seolah hambar. Bulu-bulu di tangannya berdiri. Dia merinding. Usai membayar kopi, dia beranjak, meninggal warung. Masih sempat dirogohnya kantong celana. Dua lembar  Rp 2.000 dari sisa membeli pulsa diberikannya kepada Weni. Tangan Zainuddin bergetar saat menyentuh tangan bocah itu.
“Terima kasih, Pak,” ujar Weni, tersenyum bahagia.
Zainuddin segera pulang ke rumah. Album foto dibongkarnya. Setelah diutak-atik, dia menemukan yang dicarinya. Tanpa memberitahu istrinya, dia balik ke kedai Ros. Ditunjukkannya foto yang di dalamnya ada tujuh orang kepada Ros. Foto itu diabadikan saat ulang tahun keempat Raudha, beberapa bulan sebelum tsunami terjadi.
Saat Zainuddin tiba di warung Ros, hari menjelang sore. Weni sudah tak ada lagi di situ. Setelah menghabiskan air putih yang diberikan Ros, gadis cilik itu minta izin, pulang ke rumah Sarwani – seorang perempuan miskin 69 tahun yang selama beberapa tahun terakhir merawatnya di Pulo Kayu. Dengan rona wajah ceria karena naik kelas empat, Weni menelusuri jalanan desa beraspal.
“Apakah anak tadi itu, ada dalam foto ini,” tanya Zainuddin. Setelah melihat dengan seksama, Ros menjawab pasti, “Iya, ini anaknya”, sambil menunjuk ke bocah perempuan yang memakai bando di foto itu. Lalu, ia bertanya, “Kenapa foto anak ini ada sama bapak?”
Zainuddin kemudian menceritakan tentang keponakannya yang hilang ketika tsunami di Meulaboh. Anak perempuan dan bocah pria di sampingnya adalah anak tiri adiknya, Jamaliah. Mereka hilang ketika tsunami meluluhlantakkan Kota Meulaboh.
Zainuddin kembali ke rumah. Baru diceritakan pada orang rumah tentang apa yang baru dilihatnya di kedai kopi Ros. Dia juga baru mengisahkan mimpinya yang sama persis dengan kejadian disaksikannya di warung Ros. Padahal saat bermimpi dulu, Zainuddin hanya menanggap sebagai bunga tidur belaka dan tak menceritakan pada siapapun.
Suasana di rumah Zainuddin heboh. Lalu ia menekan tombol handphonenya, mencari nama Septi. Tak sabar, dia ingin segera menceritakan kabar gembira kepada adik iparnya yang – sejak dua bulan usai tsunami – memilih tinggal di desa kelahirannya, Paringgonan, sebuah desa di pedalaman Sumatera Utara yang dikelilingi pepohonan rindang.
Dari ujung telepon terdengar suara, “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.” Zainuddin tidak sabar. Ia kembali menekan nama Septi. Pesan yang sama terdengar. Berulang kali dicobanya. Ketika malam menyelimuti siang, Zanuddin kembali beberapa kali menghubungi Septi. Tetap jawabannya sama.
“Malam itu, saya tidak bisa tidur karena terus memikirkan kenapa nomor HP Septi tidak aktif,” ujar Zainuddin.

***

MINGGU, 22 Juni 2014. Sekitar pukul 7:30 Wib, Septi sedang mengutak-atik sepeda motor bututnya di halaman rumah semi permanen ukuran 6 x 6 meter yang dibangunnya, dua tahun silam. Handphone Nokia di kantong celananya berdering. Segera diraihnya. Di layar handphone tertera nama Zainuddin.
Dalam hati Septi sempat bertanya, apa gerangan abang iparnya menelpon pagi-pagi. Di ujung telepon, Zainuddin mengabarkan berita mengejutkan. Di Pulo Kayu, ada seorang anak sangat mirip Raudha – putri Septi yang terlepas dari tangannya setelah diletakkan di papan hanyut saat tsunami menerjang 10 tahun silam.
Seolah tak percaya, Septi bertanya, “Kelas berapa anak itu, bang?” Zainuddin menjawab, “Kelas empat MIN.” Septi langsung menjawab, itu bukan anaknya. Sebab kalau anak itu benar Raudha, seharusnya dia sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) karena usianya genap 14 tahun.
Secara tak sengaja, tangan Septi tersentuh sepeda motor. Nokia di tangannya terjatuh. Pembicaraan mereka pun terputus. Septi sempat bercerita apa yang dikatakan Zainuddin kepada istrinya. Ketika dibilang anak itu kelas 4 MIN, Jamaliah tak percaya karena bila putrinya masih hidup, sekarang sudah kelas 1 atau 2 SMP.
Sesaat kemudian, seorang putri Zainuddin menelpon. Kali ini, Jamaliah yang menjawab. Putri Zainuddin mengatakan, ayahnya sekarang sedang menangis di kamar. Dia berusaha meyakinkan bibinya. Lalu, Jamaliah minta dikirimkan foto anak itu melalui HP. Karena HPnya tak bisa menerima kiriman foto, dia memberikan satu nomor seorang tetangganya.
Esoknya, atas bantuan Ros, Weni dibawa ke rumah Zainuddin. Setelah difoto, segera dikirim ke nomor tetangga Septi. Perempuan yang rumahnya di depan rumah Septi memperlihatkan foto itu kepada Jamaliah. Ketika melihat foto anak dalam HP, Jamaliah mengaku jantung berdegup kencang. “Rahim saya tiba-tiba terasa sakit,” katanya.
Septi yang duduk di samping meraih telepon di tangan istrinya. Seksama, dia menatap foto anak dalam handphone. “Betul ini Raudha, anak kita,” ujarnya.
Zainuddin meminta keluarga Septi segera datang ke Aceh. Di Paringgonan, kabar putri Septi telah ditemukan cepat beredar. Puluhan tetangga datang ke rumahnya. Septi dan Jamaliah ingin segera ke Aceh. Tetapi, tak ada uang karena telah diserahkanke Zahry, untuk biaya mendaftar masuk universitas di Medan, beberapa hari lalu.
Warga berinisiatif, mengumpulkan uang. Famili Septi juga ikut menyumbang. Akhirnya, terkumpul uang Rp 3 juta. Mereka siap berangkat ke Aceh. Tanggal 25 Juni 2014 malam, Septi, Jamaliah dan putra bungsu mereka, Jumadil, naik bus di Sibuhuan, ibukota Padang Lawas – kabupaten pemekaran dari Tapanuli Selatan – menuju Medan. Perjalanan ditempuh selama 12 jam.
Sebelum berangkat, mereka menghubungi Zahri, yang meunggu ujian masuk perguruan tinggi di Medan. Putra sulung Septi itu telah mendaftarkan diri di dua universitas. Dia memilih jurusan Bahasa Inggris dan Teknik Pertambangan. Zahry dikabari adiknya telah ditemukan di Aceh.
Zahri diminta menunggu kedua orang tua dan adiknya di Medan. Selanjutnya, mereka berempat berangkat ke kampung Zainuddin, dengan menyewa sebuah mobil. Menjelang subuh keesokan harinya, mereka tiba di rumah Zainuddin.
Zahry harus mengorbankan harapannya, tak ikut tes masuk perguruan tinggi. “Saya rela tidak ikut ujian masuk perguruan tinggi. Saya senang akhirnya adik saya ditemukan selamat setelah hampir 10 tahun terpisah,” ungkapnya seraya berharap tahun depan bisa kuliah untuk menggapai cita-citanya.
Keinginan Zahry bertemu kedua adiknya pernah dinukilkan dalam satu puisi, pada suatu malam setahun lalu.
Doa dalam Sujudku

Terbalut dalam dinginnya malam,
Kulihat samar wajah indah di sudut kamar.
Kedua adikku... entah dimana dan bagaimana kabarnya,
Entah kapan dan dimana aku akan bertemu dengannya.
Masih terlihat tingkah lucunya,
Masih kurasa canda tawa dan senyumnya.
Apakah aku masih bisa melihatnya,
Atau waktu tak mengizinkan aku bertemu dengannya.
Dalam sujudku padaMu,
Aku panjatkan doa untuk semua yang hilang dari pandanganku.
Akankah waktu mempertemukan mereka denganku.
Dalam sujudku padaMu,
Aku panjatkan doa untuk semua yang hilang dari pandanganku.
Tunjukkan padaku keberadaannya, antara ada dan tiada...
Dalam sujudku padaMu,
Aku panjatkan doa untuk semua yang hilang dari pandanganku,
Izinkan aku melihatnya di tengah sepi, walau hanya dalam mimpi.

Sekitar pukul 9:00 Wib keesokan harinya, Zainuddin menghubungi Ros agar membawa Weni ke rumahnya. Jamaliah duduk lantai di ruang tamu, dengan istri Zainuddin. Sementara itu, Septi dan Zainuddin duduk di ruang keluarga sambil mengisap rokok. Zahry, dan Jumadil juga ada di situ. Suasana senyap. Tak ada yang berbicara.
Tiba-tiba Ros dan Weni datang, mengucapkan salam. Ros bersalaman dengan Jamaliah dan istri Zainuddin. Weni yang berjalan di samping Ros melakukan hal sama. Begitu Weni bersalaman dengan Jalamiah, perempuan tambun itu menjerit, “Benar, ini anak saya.” Weni yang masih bingung segera dipeluknya. Dia pun membalas pelukan Jamaliah.
Septi yang duduk sekitar dua meter dari istrinya bangkit. Dia memeluk tubuh mungil. Zahry, Jumadil dan semua anggota keluarga Zainuddin bangkit dari duduk. Mereka mengelilingi Septi dan Jamaliah yang sedang memeluk Weni. Pasangan suami istri itu tak mampu menahan tangis. Air mata seluruh anggota keluarga Zainuddin dan Rosmani yang melihat momen mengharukan itu, ikut menetes.
Usai makan siang bersama di rumah Zainuddin, Ros mohon diri. Tak lupa, dia membawa pulang Weni. “Kalau mau ikut perasaan, kami tak ingin melepaskan lagi Raudha,” kata Septi.

***

SABTU, 28 Juni 2014. Sekitar pukul 7:30 Wib, keluarga Septi bertamu ke rumah Sarwani, perempuan yang selama ini merawat Weniati, di Pulo Kayu. Zainuddin dan istrinya juga ikut. Sebelum meninggalkan rumah, ia menelpon Rosmani agar memberitahu Sarwani kalau mereka ingin bertamu.
Selain Sarwani dan Weniati, di rumah bantuan sebuah NGO asal Jerman bagi korban tsunami itu juga tinggal dua putra Ida Maryam, putri sulung Sarwani. Sejak tahun 2009 silam, Ida menetap di Takengon, ibukota Kabupaten Aceh Tengah, setelah menikah lagi dengan warga setempat.
Untuk menghidupnya bersama kedua cucu dan Weniati, Sarwani setiap pagi mencari lokan di pinggir laut dan tambak dekat pantai di belakang rumahnya. Ia juga mengumpulkan barang-barang bekas yang layak pakai, botol dan gelas minuman mineral untuk dijual pada pengumpul yang dua pekan sekali datang ke rumahnya.
Sarwani menyambut hangat kunjungan keluarga Septi dan Zainuddin. Apalagi Rosmani telah menceritakan padanya jika ada keluarga korban tsunami yang dulu tinggal di Meulaboh mengaku orang tua Weniati. Sarwani bahagia bila memang benar Septi dan Jamaliah adalah orang tua kandung Weniati.
Dalam pertemuan penuh kekeluargaan, Jamaliah menyampaikan keinginan mereka membawa pulang Weniati. Tapi, Sarwani tak mengizinkannya karena ia masih ingin menjalani ibadah puasa bersama. Dia bilang kepada Septi dan Jamaliah agar datang lagi usai Hari Raya Idul Fitri 1435 Hijriah. Pasangan itu tak memaksa. Mereka membiarkan Weniati tinggal bersama Sarwani dan dua cucunya.
Selama Ramadhan, keluarga Septi sering datang ke Pulo Kayu, untuk bertemu putrinya. Mereka juga mengajak aparat Desa Panggong untuk bermusyawarah dengan keluarga besar Sarwani. Selain aparat Pulo Kayu, dari pihak keluarga Sarwani juga selalu hadir Rusmadi, mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) setempat.
Atas bantuan Zainuddin, acehkita.com bertemu Rusmadi. Tempatnya di kedai Rosmani, lokasi pertama Zainuddin melihat Weniati, yang kemudian diyakini sebagai Raudha. Rusmadi adalah seorang sosok yang tegas bicaranya. Ia juga tinggal di Pulo Kayu. Rusmadi masih ada hubungan famili dengan Sarwani.
Rusmadi mengaku sering melihat Weniati di desanya, sejak bocah itu dibawa Mustamir, menantu Sarwani, dari Pulau Banyak pada 2006. Kepada Rusmadi dikatakan Weniati ialah anak yatim piatu yang masih ada hubungan keluarga dengan Mustamir.
Seiring perjalanan waktu, Rusmadi mengaku agak penasaran karena tidak ada seorangpun keluarga di Pulau Banyak datang menjenguk Weniati. Dia merasa terganggu saat Mustamir dan istrinya, Sarina Dewi, serta ketiga putra mereka memutuskan pindah ke Belawan, pada 2009.
Kalau tak dibawa serta ke Belawan, ujar Rusmadi, seharusnya Weniati diantar pulang ke Pulau Banyak, untuk tinggal bersama dengan keluarganya. Tapi, dia ditinggalkan bersama Ida Maryan dan Sarwani. Ida merupakan janda beranak dua.
Rusmadi mulai curiga ketika secara kebetulan melihat Weniati diganggu seorang anak laki-laki dengan panggilan “anak tsunami”, sekitar tiga tahun lalu. Mantan panglima sagoe GAM itu mendengar jawaban Weniati, “Memang benar aku anak tsunami. Seharusnya kamu jangan ganggu aku.”
Kemudian, pada Mei 2013, seorang nelayan bernama Darman alias Gaipe, 32 tahun, datang menemui Rusmadi di Pulo Kayu. Adik kandung Mustamir itu ingin berterima kasih kepada Rusmadi yang telah membantu pembebasannya saat ditawan pasukan GAM, tahun 2000.
“Dia juga bertanya pada saya, ‘Bagaimana kondisi anak tsunami yang dibawa abang saya?’,” tutur Rusmadi. “Gaipe juga bilang dialah yang menyelamatkan Weni bersama abangnya di laut ketika tsunami. Kemudian ia membawa kedua anak itu ke Pulau Banyak.”
Rusmadi mengaku saat Darman bercerita tentang anak tsunami, ia tak terlalu menyimak. Ia baru teringat pengakuan Darman ketika keluarga Septi datang ke Pulo Kayu. Meski masih ada hubungan keluarga dengan Sarwani, tetapi Rusmadi sangat yakin kalau Septi dan Jamaliah orang tua Weniati.
Namun, semua cerita Rusmadi dibantah Darman. “Saya tak pernah ditangkap GAM. Saya memang kenal Bang Rusmadi karena dia keluarga Kak Sari, tetapi tidak benar kalau dia bilang saya pernah datang ke Pulo Kayu tahun lalu,” ujar Darman, yang kini menetap di Nias, saat dikonfirmasi acehkita.com melalui telepon, awal Desember lalu.
Darman juga membantah pernah menyelamatkan anak korban tsunami. “Jika mayat yang hanyut di laut ada ketemu dan saya langsung lapor ke polisi air,” katanya seraya menyebutkan bahwa saat tsunami menerjang Aceh, dia sedang berada  di Simeulue, mencari tripang.
Sementara itu, Sarwani mengisahkan, awal 2006, Mustamir melaut ke Pulau Banyak. Di sana, dia melihat dua bocah kurang terurus. Dari penuturan warga setempat diketahui kedua anak itu korban tsunami, yang orang tuanya sudah meninggal dunia dihumbalang gelombang Samudera Hindia.
“Menantu saya telepon istrinya, anak saya, Sari. Ia bilang di Pulau Banyak ada dua anak tsunami. Mustamir tanya apa Sari mau merawat mereka. Tapi, Sari hanya mau merawat anak perempuan karena mereka sudah punya tiga anak laki-laki. Lalu, dibawa pulanglah anak perempuan itu. Anak laki-laki tinggal bersama keluarga nelayan di Pulau Banyak,” jelas Sarwani.
Sejak dibawa, bocah itu tinggal bersama keluarga Mustamir. Namun, Sarwani mengaku, sering bertemu bocah yang sangat pendiam karena rumahnya dan rumah keluarga Mustamir berdekatan. Malah anak itu sering makan dan tidur di rumah Sarwani.
“Kalau ditanya siapa namanya, ia hanya diam saja. Makanya kami panggil dia kakak, kadang-kadang kami panggil adik. Baru saat hendak masuk sekolah MIN, saya beri nama Weniati,” kata Sarwani pada acehkita yang mendatangi rumahnya, akhir Oktober lalu.
Perempuan tua itu tak mampu membendung air matanya saat berujar, “Weni sekarang telah melupakan saya yang pernah merawatnya setelah dia bertemu dengan orang tuanya.”
Setelah beberapa kali pertemuan yang melibatkan aparat Gampong Panggong dan Pulo Kayu disepakati supaya Mustamir datang ke desa kelahiran istrinya, untuk menjelaskan latar belakang Weniati. Apalagi dari pembicaraan melalui telepon, dia mengklaim Weniati bukan korban tsunami, tapi anak yatim piatu yang masih ada hubungan keluarga dengannya.
Mustamir yang tinggal di kawasan Belawan, Sumatera Utara, bersedia datang ke Pulo Kayu, tapi tak punya uang untuk ongkos transportasi. Seorang sepupu Jamaliah di Meulaboh mengirimkan sejumlah uang kepada Mustamir. Meski sudah dikirim uang, Mustamir tetap tak datang. Dia hanya mengutus istrinya, Sarina Dewi, ke Pulo Kayu.
“Uang yang dikirim tak cukup untuk ongkos kami sekeluarga. Makanya hanya istri saya saja yang pulang,” katanya ketika dikonfirmasi acehkita.com melalui telepon, awal November silam.
Menurut Mustamir, Weniati adalah anak yatim piatu yang dirawat Inagamasi, neneknya di Desa Ujung Sialit, Kecamatan Pulau Banyak Barat, Aceh Singkil. Weniati punya dua orang adik, laki-laki dan perempuan. Saat ke Ujung Sialit, pada awal 2006, untuk mengunjungi kedua orang tuanya, Mustamir mengaku melihat tiga orang anak yang dirawat Inagamasi. Lalu, perempuan miskin itu meminta Mustamir untuk membawa seorang dari mereka.
“Saya telepon istri saya. Saya bilang kalau di Ujung Sialit ada tiga anak yatim piatu yang dirawat kakak ibu kandung saya. Saya tanya, apa dia mau jika saya bawa mereka ke Pulo Kayu. Terus, istri saya jawab untuk membawa seorang anak perempuan saja karena kami sudah punya tiga orang anak laki-laki,” jelas Mustamir, seraya menambahkan kedua orang tua ketiga anak itu sudah meninggal dunia sebelum tsunami.
Cerita yang sama disampaikan Sarina Dewi, 32 tahun, saat acehkita.com mendatangi rumah sewanya di kawasan Belawan, akhir Oktober silam. Waktu itu, suaminya telah pergi melaut. Biasanya, Mustamir baru pulang dua pekan kemudian. Pasangan yang menikah pada Oktober 1999, tinggal di rumah sewa  dari kayu bersama tiga putra mereka.
Perempuan bertubuh mungil itu menyambut ramah kunjungan acehkita.com. Wawancara berlangsung di ruang tamu pemilik rumah. Dua anaknya bermain di luar rumah. Seorang lagi sedang berada di sekolah.
Rumah dari kayu itu menyatu dengan rumah yang disewa keluarga Mustamir: sebuah kamar ukuran 3 x 4 meter dan satu ruangan 3 x 3 meter yang dipakai untuk meletakkan pakaian dan barang lainnya. Satu sepeda motor terparkir di situ.
“Weni itu adalah keluarga suami saya. Bagaimana mungkin tsunami sudah 10 tahun, tapi masih ada keluarga yang mengaku anak mereka masih hidup. Itu sama sekali tidak masuk akal,” tegas Sarina, dengan suara berusaha menahan marah. “Kalau dulu kami ikut bawa Weni ke Belawan, kejadiannya tidak akan seperti ini.”
Saat ditanya kenapa mereka atau keluarganya di Ujung Sialit tak menjemput Weniati, Mustamir dan Sarina mengaku mereka tidak punya uang. “Kami juga tak punya uang untuk melaporkan masalah ini kepada polisi,” kata Mustamir. “Tapi, kami punya bukti di Ujung Sialit kalau Weni bukan anak tsunami.”
Dia menambahkan bahwa adik laki-laki Weniati kini tinggal di Nias bersama pamannya. Sedangkan adik perempuannya masih tetap berada di Ujung Sialit bersama neneknya. “Boleh dicek ke sana kalau Weni itu anak yatim piatu yang masih ada hubungan keluarga dengan saya,” ujar Mustamir.
Pengakuan Mustamir dikuatkan keterangan Kepala Desa Ujung Sialit, Okta Derita Gea, yang dihubungi acehkita.com, akhir Oktober lalu. Dia memastikan, tidak ada anak korban tsunami yang selamat atau dibawa ke Ujung Sialit.
Di perkampungan nelayan yang penduduknya seribuan lebih jiwa itu, kata Okta, kalau ada suatu kejadian,  semua warga pasti mengetahui.
“Konon lagi kalau ada korban tsunami yang dibawa atau diselamatkan, pasti akan heboh,” katanya, seraya menambahkan, waktu tsunami menerjang, Ujung Sialit tidak terkena dampaknya.
Namun, cerita Okta agak berbeda dengan klaim Mustamir, terkait kedua orang tua Weniati. Menurut dia, orang tua Weniati dan dua adiknya bukan telah meninggal dunia, tapi bercerai. “Ayah mereka tinggal di Pekanbaru, Riau. Sedangkan ibunya sudah kawin lagi di Nias,” jelas Okta.
Lalu, kenapa Sarwani menyebutkan Weniati, anak korban tsunami? Ketika hal itu ditanyakan pada Mustamir dan istrinya, mereka menjawab, “Mungkin ibu saya sudah dipengaruhi oleh orang yang mengaku orang tua Weniati.”
Sarina mengaku, saat pulang ke Pulo Kayu, ia telah menjelaskan tentang latar belakang orang tua Weniati kepada keluarga Septi. Tapi, karena “didesak dan ada jaminan semua pihak” akhirnya ia bersedia menyerahkan Weniati, setelah mendapat persetujuan suaminya, pada keluarga Septi selama sepekan “untuk kepentingan tes DNA.”
Apalagi, waktu itu, Sarwani ikut mendampingi Weniati ke Meulaboh pada 6 Agustus lalu. Perempuan tua yang telah menganggap Weniati sebagai cucunya sempat tinggal bersama keluarga Septi hampir dua pekan di Meulaboh.
“Tapi, hingga sekarang tes DNA tak pernah dilakukan dan Weni telah diambil mereka,” ujar Mustamir.

***

MINGGU, 10 Agustus 2014. Sekitar pukul 17:30 Wib, Lana Bestari – seorang ibu rumah tangga berusia 30 tahun di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat –  menghidupkan televisi di rumahnya. Remote di tangannya dipencet beberapa kali, mencari siaran menarik. Akhirnya, dia memilih TVOne. Sejumlah berita perkembangan politik di Indonesia berlalu.
Beberapa menit kemudian, berita reunifikasi keluarga korban tsunami dengan putrinya, Raudhatul Jannah alias Weniati. Waktu itu, reporter TVOne sedang mewawancara Jamaliah. Sambil menangis, perempuan di layar kaca mengaku masih berusaha mencari putranya yang juga terlepas dari tangan suaminya, Septi Rangkuti, akibat dihumbalang gelombang raya, hampir 10 tahun silam.
Berita yang disiarkan secara langsung menarik perhatian Lana. Tiba-tiba, dia teringat seorang remaja jalanan yang sering datang ke rumahnya untuk minta uang atau makanan. Wajah remaja itu mirip Jamaliah. Lana agak ragu karena Jamaliah menyebut nama anaknya Arif Pratama Rangkuti, sementara remaja jalanan itu dipanggil Ucok.
Dia meraih Blackberrynya. Lana memotret wajah Jamaliah di layar kaca yang sedang menangis. Pikirannya tak lagi fokus pada berita lain yang disiarkan stasiun televisi itu. Dia merasa perlu bertemu Ucok.
Bagi Lana, Ucok tak asing. Perkenalan anak tanggung itu dengan keluarganya terjadi pada suatu pagi tahun 2007. Hari itu, saat suaminya membuka warung internet (warnet) miliknya, dia menemukan seorang anak, berpakaian lusuh dengan bekas luka besar yang belum pulih di kepala bagian depan, tertidur di pintu toko.
Suami Lama mengajak anak itu masuk. Setelah memberi makanan dan baju, suami Lana minta anak itu tidur dalam warnet dan menetap saja di situ kalau tak ada tempat tinggal. Tapi, menjelang siang, dia pergi tanpa memberitahu Lana dan suaminya.
“Dia tidak bisa bahasa Indonesia. Logat bicaranya bukan logat Padang. Waktu kami tanya siapa namanya, dia diam saja. Saat kami tanya kenapa kepalanya, dia bilang disiram air panas oleh seseorang. Dia juga bilang diturunkan sopir truk dari Medan,” jelas Lana saat diwawancara acehkita.com melalui telepon, akhir Oktober lalu.
Karena tidak diketahui namanya, keluarga Lana memanggil bocah itu, “Ucok”. Keesokan harinya, anak itu datang lagi ke warnet. Setelah diberi makanan, dia pergi lagi. Ucok sering datang sehingga keluarga Lana dekat dengannya. Saat Lana menutup usaha warnetnya tiga tahun lalu, Ucok masih tetap datang ke rumahnya. Ucok akrab dengan Lana, suaminya dan ketiga putra mereka.
Pernah suatu ketika keluarga Lana menawarkan Ucok didaftarkan ke sekolah, tapi dia menolak. Tampaknya, ia lebih memilih hidup di jalanan. Bila malam, Ucok tidur di pasar, bersama anak jalanan lain. Dia juga sering tidur di kuburan.
Kehidupan sebagai anak jalanan di Payakumbuh dilakoni Ucok selama tujuh tahun. Garis hidupnya mulai berubah ketika Lana memperlihatkan foto yang dipotretnya dari layar televisi. Saat Ucok melintasi di depan rumahnya, 11 Agustus lalu, Lana memanggilnya. Ditunjukkan foto perempuan yang sedang menangis.
“Ucok memperhatikan foto di BB saya. Lalu, dia bilang, ‘Mak’. Tentu saja, saya tak  langsung percaya ucapannya. Saya tanya nama ibunya. Dia menjawab ‘Liah’. Saya juga tak bilang padanya kalau wanita itu sedang mencara anaknya yang hilang waktu tsunami,” tutur Lana.
Ternyata Liah adalah nama panggilan Jamaliah. Ketika ditemui acehkita.com, ia mengaku beberapa kawannya di Meulaboh sebelum tsunami memanggilnya dengan sebutan Liah.
Mendengar pengakuan Ucok, Lana coba menyelidiki. “Saya tanya dia, ‘Kalau begitu kamu sebenarnya asalnya dari mana?. Tiba-tiba Ucok menangis sambil berujar, ‘Gelombang besar’,” ungkap Lana.
Sesaat kemudian, perempuan yang selalu mengenakan hijab itu menghubungi seorang familinya yang bekerja di TVOne, untuk mendapatkan nomor kontak reporter stasiun televisi itu di Padang. Lalu, diperoleh nomor Donal Caniago, reporter TVOne di Padang. Setelah Donal datang ke rumah Lana, dia memotret Ucok dan mengunggah di laman facebooknya.
Beberapa pengguna facebook di Aceh sempat menshare foto Ucok. Pada saat bersamaan, keluarga Septi terus  mencari informasi keberadaan Arif. Ada yang bilang Arif “masih” di Pulau Banyak. Ada juga informasi dia berada di Nias.
Keyakinan Jamaliah bahwa putranya masih hidup berkat pengakuan Raudha, setelah mereka membawa gadis cilik itu ke Meulaboh untuk tinggal bersama. “Suatu malam, Raudha bilang kepada saya kalau dia sempat tinggal di pulau dengan abangnya, Arif,” jelas Jamaliah.
Donal juga mengirim foto Ucok ke rekannya di Meulaboh untuk diperlihatkan pada keluarga Septi. Melihat wajah gelap Ucok dengan rambut panjang acak-acakan, Jamaliah dan Septi agak sedikit ragu.
Tapi, Jamaliah mulai yakin setelah melihat foto lain: Ucok duduk di samping Donal. Cara duduk berjongkok dengan bagian depan kaki sedikit dibuka sangat mirip dengan Arif kecil. Jamaliah menelpon Lana. “Apakah Ucok ada bekas luka di hidung sebelah kanan?” tanyanya. Lana menjawab, “Iya, ada.”
Menurut Jamaliah, ketika berusia tujuh tahun, Arif sempat terjatuh saat hendak mengambil bola. Hidupnya mengalami luka, yang meninggalkan bekas.
Ketika Ucok pamit, Lana memberikan sejumlah uang. Dia  minta Ucok memangkas rambutnya. Keesokan hari, Ucok kembali datang ke rumah Lana. Perempuan itu segera menghubungi keluarga Septi. Begitu mendengar suara Jamaliah, Ucok bilang, “Mak, cepat datang, jemput aku. Aku mau pulang ke Aceh.”
“Andai saya punya sayap, saya akan segera terbang ke sana untuk menjemput Arif,” ujar Jamaliah.
Berkat bantuan sejumlah uang dari familinya, Septi bersama istrinya dan tiga anak mereka serta adik kandung Jamaliah, Samsul, menyewa sebuah mobil. Mereka berangkat dari Meulaboh, sekitar pukul 3:00 dinihari. Selama dalam perjalanan, mereka hanya berhenti tiga kali untuk makan. Rombongan itu tiba di Payakumbuh, Senin dinihari (18 Agustus 2004) setelah menempuh perjalanan lebih dari 24 jam.
Pagi hari, Jamaliah tak sabar menghubungi Lana untuk mengabarkan mereka telah tiba di Payakumbuh. Tetapi, Lana memberikan informasi menyesakkan dada. Ucok “hilang”.
Di pasar yang biasa dijadikan tempat nongkrongnya, ia tak ada. Bersama sejumlah wartawan, Lana sempat meminta bantuan polisi untuk mencari Ucok. Hampir setengah hari mereka mencari ke tempat-tempat anak jalanan mangkal. Ucok tetap tak ditemukan. Baru menjelang zuhur, Ucok ditemukan dekat kuburan. Ternyata, malam itu dia tidur di situ karena ada perselisihan dengan seorang anak jalanan.
“Saya sudah minta Ucok tidur di rumah saya malam itu karena orang tuanya akan datang, tapi dia tak mau,” tutur Lana, mengisahkan upaya pencarian Ucok menjelang pertemuan dengan Septi dan Jamaliah.
Begitu ditemukan, Ucok dibawa ke rumah Lana. Sejumlah tetangga Lana dan para wartawan juga hadir di situ. Ketika mobil yang membawa keluarga Septi berhenti di depan rumah, Ucok segera lari keluar. Dia memeluk Jamaliah dan Septi. Menurut Jamaliah, pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Ucok, “bagaimana sepeda saya.” Ternyata sebelum tsunami, Arif punya sepeda saat tinggal di Meulaboh.
“Semua tetangga saya yang melihat momen mengharukan itu menangis. Saya juga menangis,” kata Lana.
Kemudian, mereka semua dijamu makan siang di rumah Lana. Ucok duduk di samping Jamaliah. Mereka memilih duduk di lantai. Ia minta disuap. Setelah makan, Jamaliah dan keempat anaknya – Zahri, Raudha, Jumadil dan Arif alias Ucok – duduk bersama di sebuah kursi tamu. Sedangkan, Septi duduk sendiri di kursi lain. Lalu, tanpa sungkan, Ucok menyulut sebatang rokok.
Sebelum meninggalkan rumah Lana, sore itu, Ucok sempat mengatakan kepada perempuan itu bahwa ia siap pulang ke Aceh. “Dia bilang, ‘Saya sudah menemukan keluarga saya dan saya sekarang sangat senang,” tutur Lana. “Selama tujuh tahun Ucok di Payakumbuh, itulah kalimat paling jelas yang dia ucapkan kepada saya.”
Kemudian, keluarga Septi pergi ke Markas Polisi Resort Payakumbuh, untuk melaporkan bahwa mereka telah menemukan anak mereka yang hilang waktu tsunami melanda Aceh. Tanpa istirahat, malam itu juga mereka memutuskan untuk pulang ke Meulaboh, malam itu juga.
Ucok tidak membawa apa-apa, selain baju di badan. Tetapi, ia punya sesuatu. Namanya kembali dipanggil Arif. Dia juga memperoleh kasih sayang keluarga yang tak pernah dirasakannya selama terpisah hampir 10 tahun.
Begitu tiba di Meulaboh, mereka singgah ke rumah makcik Jamaliah, tempat sementara keluarga itu tinggal setelah membawa pulang Raudha. Tetapi, Arif protes karena ia ingin pulang ke Aceh. Waktu dijelaskan bahwa dia sudah tiba di Aceh, Arif tetap protes.
“Ketika kami tiba di Meulaboh, saya melihat perubahan pada Arif. Sejak saat itu, dia tidak pernah merokok lagi,” kata Septi.
Sejam kemudian, Samsul – adik Jamaliah yang ikut ke Payakumbuh — pamit, pulang ke rumahnya. Arif ingin ikut. Jamaliah dan Septi mengizinkan. Begitu mobil berhenti di belakang rumah Samsul, Arif segera turun dan lari masuk ke rumah.
“Ini baru Aceh. Mana sepeda saya,” ujarnya.

***

SELASA, 11 November 2014. Sekitar pukul 16:00 Wib, mobil yang membawa Septi, Jamaliah, Zahry, Arif, Raudha, dan Jumadil meninggalkan Meulaboh. Dalam mobil itu terdapat seorang wartawan Korea, yang bersedia membiayai kepulangan mereka. Setelah menempuh perjalanan melelahkan, mereka tiba di desa kelahiran Septi, Kamis dinihari.
“Saat bertemu dengan seorang adik saya yang datang ke rumah, Arif langsung bertanya dimana monyet,” jelas Septi kepada acehkita.com yang mengunjungi mereka di Desa Paringgonan, Kecamatan Ulu Barumun, Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara, awal Desember lalu.
Beberapa bulan sebelum tsunami meluluhlantakkan Aceh, saat Hari Raya Idul Fitri 1425 Hijriah, Septi dan keluarganya pulang kampung. Kala itu, di rumah Edi Azhari Rangkuti – adik ketiga Septi – ada seekor monyet.
“Ternyata Arif masih ingat monyet itu padahal sudah 10 tahun lalu. Monyet itu tentu saja sudah lama mati,” kata Edi.
Setelah seminggu keluarga abangnya di Paringgonan, Edi menangkap seekor anak monyet dari hutan dekat kampung. Arif terlihat bahagia bermain dengan monyet. Saat acehkita.com memintanya, Arif berusaha mempertahankannya.
“Tidak boleh. Ini punya Arif,” ujarnya, sambil mendekap monyet kecil yang diikat di samping rumahnya.
Jamaliah menyatakan bahwa salah satu alasan mereka pulang ke Paringgonan karena anak-anak tak mau bersekolah di Meulaboh. Raudha telah didaftarkan di sebuah SMP. Sedangkan, Arif dimasukkan ke Sekolah Luar Biasa (SLB). Tapi, mereka hanya bersedia sekolah sebulan. Setelah itu, keduanya tak mau lagi sekolah.
“Tapi begitu tiba di sini, keduanya ingin segera sekolah. Mungkin mereka lihat Jumadil setiap pagi pergi sekolah. Makanya, Senin atau empat hari setelah kami tiba di kampung, keduanya kami mendaftarkan ke SD. Raudha diterima di kelas lima, sementara Arif duduk di kelas tiga,” kata Septi.
Siang itu, Rabu (3 Desember 2014) saat acehkita.com sedang mewawancarai Septi dan Jamaliah, Raudha pulang sekolah, yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah barunya. Gadis cilik itu mengumbar senyum saat melangkah ke pintu. Sebelum masuk,  ia memberi salam ke seisi rumah. Usai mencium tangan kedua orangtuanya, ia masuk kamar, mengganti pakaian sekolah: baju putih dipadu rok merah dan jilbab putih.
Raudha kemudian duduk di samping ayah dan ibunya serta Jumadil di ruang keluarga rumah berukuran 6 x 6 meter yang dibangun Septi, dua tahun silam. Hanya ada dua kamar di rumah berdinding papan itu. Lalu, Raudha bercerita pengalamannya di sekolah tentang sulitnya mata pelajaran, gurunya yang baik dan teman-teman barunya.
Rumah itu terletak hanya sepelemparan batu dari lokasi rumah darurat yang dibangun warga Paringgonan ketika keluarga Septi pulang dua bulan setelah tsunami. Hingga kini, bekas pertapakan rumah itu masih tersisa lantai semen yang telah retak dan mulai ditumbuhi semak belukar.
Sekitar 15 menit berselang, Arif yang memakai baju putih dan celana panjang merah dengan tas ranser masih baru di bahu, bersua di pintu. Tanpa memberi salam, dia langsung masuk dan duduk di antara keluarga yang sedang tertawa lepas, mendengar lelucon Jumadil dan Raudha.
Dengan logat agak gagap, remaja yang seharusnya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) bercerita tentang sejumlah anak-anak di sekolahnya yang berkelahi. “Saya leraikan mereka. Saya bilang kepada mereka  berkelahi dosa,” ujarnya.
Septi dan Jamaliah hanya tersenyum mendengar cerita Arif. Lalu, Jamaliah menyuruh Arif mengganti baju sekolah. Arif coba berkilah, tapi tatapan mata Septi dengan masih tersenyum membuatnya segera masuk ke kamar. Sejurus kemudian, Arif keluar dan kembali bergabung dengan orangtua dan kedua adiknya.
Mereka semua duduk di tikar yang digelar di lantai semen, tanpa keramik. Tidak ada kursi tamu di ruang keluarga. Sebuah televisi 20 inci terletak dekat dinding. Di sampingnya, berdiri kulkas semeter. Mereka larut pembicaraan santai.  Raudha dan Arif seolah saling berlomba menceritakan pengalaman di sekolah. Tiba-tiba putra sulung mereka, Zahry pulang. Ia bergabung, duduk di lantai.
Keceriaan Raudha hari itu sangat berbeda dengan kesaksian Tuti Erlinda yang pernah menjadi gurunya saat duduk di kelas dua MIN Pawoh Padang. Kepada acehkita.com yang menemuinya di sekolah, akhir Oktober lalu, Tuti mengaku sempat beberapa kali menggali informasi latar belakang Weniati.
“Anaknya sangat pendiam. Kalau ditanya, dia lebih banyak tidak memberikan jawaban. Kalaupun ada suara keluar dari mulutnya, suaranya sangat kecil dan
sering tak terdengar,” ujar Tuti.
Perubahan sikap Raudha berbeda jauh dengan saat dia dibawa keluarganya ke Banda Aceh, awal Agustus lalu, setelah mereka menemukan putrinya. Ditanya wartawan tentang pengalaman hidupnya selama 10 tahun terakhir waktu itu, Raudha hanya menjawab satu kata, lalu diam.
“Sekarang Arif dan Raudha bagai raja dan ratu di rumah ini. Keduanya paling banyak ngomong. Saya sangat senang akhirnya kami berkumpul lagi,” tutur Zahry.
Jamaliah bangkit dari duduk, melangkah ke dapur, beralaskan tanah. Tanpa diminta, Raudha ikut ibunya. Ibu dan putrinya sibuk di dapur. Usai memasak, Jamaliah dan Raudha membawa nasi dan telur goreng ke ruang keluarga. Mereka santap siang. Menunya telur mata sapi dan sayur bening.
Bagaimana Septi dan Jamaliah menyikapi klaim Mustamir yang menyebutkan Raudha bukan anak tsunami? Pasangan suami itu terlihat sangat menyayangi keempat anaknya, dengan sepenuh hari. Mereka sangat yakin gadis cilik itu adalah putri mereka yang terpisah saat tsunami meluluhlantakkan Meulaboh.
Sebelum memutuskan pulang ke Paringgonan, mereka lebih dulu melaporkan ke Mapolres Aceh Barat. Dengan begitu kalau ada persoalan di kemudian hari, mereka siap datang ke Meulaboh.
“Waktu pertama kali menemukan Raudha, kami juga lapor ke polisi. Buktinya ini surat dari polisi Aceh Barat. Waktu menemukan Arif, kami juga melapor ke Polres Payakumbuh,” tutur Jamaliah seraya memperlihatkan kedua lembar surat dari kepolisian.
Septi menambahkan, alasan mereka tak melakukan tes DNA saat membawa Raudha dari Sarwani karena tak punya uang. Apalagi polisi menyatakan tes DNA baru bisa dilakukan bila ada komplain dari keluarga lain. Namun hingga mereka pulang ke Paringgonan, tidak ada satupun keluarga di Aceh yang mempersoalkannya.
“Sekarang pun kami siap untuk tes DNA bila yang komplain seperti dikatakan polisi. Kalau tak ada komplain, untuk apa tes DNA karena kami berdua sangat yakin Raudha adalah anak kami yang hilang waktu tsunami,” ujar Jamaliah.
Septi curiga Mustamir tak berani datang menjumpai keluarganya saat mereka tinggal selama tiga bulan lebih di Meulaboh karena mereka telah menemukan Arif, yang diyakini mengalami penyiksaan. Di bagian kepala dan kakinya ada bekas luka. Menurut Arif, luka di kepalanya karena “disiram air panas oleh mami.” Tapi, tak jelas siapa yang melakukannya.
Saat dikonfirmasi, Mustamir mengaku tak pernah kenal Arif. Mustamir tetap bersikeras Weniati, yang kini telah berubah nama menjadi Raudhatul Jannah, anak sepupunya.
“Nenek Weni pernah datang ke rumah orang tua saya. Nenek bilang, ‘tega kali si Mustamir menjual Weni. Seharusnya, kalau dia tak mau merawatnya lagi, diantar kemari’,” ujar Darman. “Sekarang, abang saya tidak berani lagi pulang ke Ujung Sialit.”
Septi dan Jamaliah tampaknya tak terlalu menghiraukan klaim Mustamir dan Darman. Yang mereka lakukan saat ini adalah memberi kasih sayang kepada keempat anaknya, terutama Raudha dan Arif yang membutuhkan perhatian lebih.
Setelah makan siang, Arif bergegas keluar rumah. Bersama beberapa kawan barunya, dia hendak mencari durian jatuh di kebun seputaran desa. “Itulah Arif. Dari dulu tak pernah betah di rumah. Dia juga banyak kawan waktu kami tinggal di Meulaboh sebelum tsunami,” jelas Jamaliah.
Menjelang petang, Septi, Jamaliah dan ketiga anaknya pergi ke air terjun dari pegunungan di ujung desa. Setiba di situ, ternyata Arif telah lebih dulu mandi. Tanpa menunggu persetujuan dari kedua orang tuanya, Raudha dan Jumadil segera turun ke kolam, bergabung dengan Arif. Septi, Jamaliah dan Zahry memperhatikan keceriaan mereka, sambil tersenyum bahagia.[]
Kisah Bocah Papan Hanyut Kisah Bocah Papan Hanyut Reviewed by Nurdin Hasan on December 31, 2014 Rating: 5

No comments:

Ads

Powered by Blogger.