Facebook

“Every Day is Sanger Day”


OLEH NURDIN HASAN
Banda Aceh (TAG) – Sekitar seratus orang memenuhi kursi bagian belakang sebuah warung kopi pinggiran ibukota Banda Aceh. Sebagian besar mereka berusia di bawah 30 tahun. Di meja, berjejer gelas-gelas mini berisi minuman warna coklat muda, yang siap diseruput.

Petang itu, Minggu (12/10), mereka menggelar #SangerDay di Solong Mini Coffee. Riuhnya dalam warung disesaki pengunjung, yang sedang menonton pertandingan sepakbola antara Indonesia dan Australia, tak memengaruhi perhelatan #SangerDay. Mereka larut dalam kegembiraan dan baru beranjak setelah acara usai, bersamaan terdengar kumandang suara azan Maghrib dari kejauhan.
Perayaan #SangerDay diisi dengan minum sanger bareng, diiringi musik akustik, baca puisi tentang kopi, dan standup komedi. Beberapa kali applaus kala rangkaian acara berganti. Puncak kemeriahan terjadi saat seluruh yang hadir, mengangkat gelas berisi sanger.
Sanger adalah minuman khas Aceh – campuran kopi, susu dan sedikit gula pasir. Karena rasanya khas dan hanya ada di Aceh, komunitas I Love Aceh – tempat kaum muda bernaung yang gencar mengampanyekan hal positif tentang Aceh – menginisiasi event #SangerDay. Temanya, “Every Day is Sanger Day.”
M Antonio Gayo, ketua panitia menyatakan #SangerDay perdana  untuk memperkenalkan minuman khas Aceh kepada dunia. Dia mengharapkan lewat perayaan #SangerDay akan banyak wisatawan mengunjungi Aceh untuk menikmati sanger dan berbagai kuliner Aceh lain, sambil menjelajahi keindahan alam dan situs bekas tsunami di provinsi ujung barat Indonesia.
“Ide kegiatan ini berawal dari twit seorang follower @iloveaceh setahun lalu tentang perlunya merayakan #SangerDay karena minuman ini hanya ada di Aceh,” katanya, seraya berharap #SangerDay  tetap digelar setiap tahun dengan berbagai kegiatan untuk menarik wisatawan datang ke Aceh.
Ide perayaan #SangerDay mendapat respon positif followers lain. Lalu, relawan  @iloveaceh menggerakkan komunitas lain dan para penikmat sanger untuk bersama menggelar acara lewat hastag #SangerDay di Twitter. Hastag itu memenuhi lini massa para pengguna Twitter di Aceh sejak sepekan menjelang acara hingga Senin (13/10) dinihari.
Selain sanger, sore itu juga disajikan timphan – penganan tradisional Aceh yang sangat populer. Timphan terbuat dari tepung ketan dan pisang, dibalut daun pisang. Di dalamnya terdapat sarikaya terbuat dari telur, santan, dan gula. Ada juga warga Aceh membuat timphan berisikan kelapa inti dan gula.

“Sama-sama ngerti”
Awal kemunculan sanger terbilang  unik. Fahmi Yunus, seorang pekerja kemanusiaan yang juga dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, ialah pencetus perlunya merayakan #SangerDay. Fahmi menjelaskan pada tengah malam 11 Oktober 2013, secara tiba-tiba mentwit betapa pentingnya merayakan #SangerDay karena punya sejarah unik.
“Kenapa harus tanggal 12 Oktober? Karena idenya muncul tengah malam, jadi nggak asyik kalau harus merayakan malam-malam. Makanya lebih baik dirayakan besok, tanggal 12 Oktober,” jelasnya, sambil menyeruput sanger yang tinggal setengah gelas.
Ternyata, ide tengah malam itu mendapat respon admin akun  @iloveaceh. Lewat diskusi dunia maya di twitter land disepakati merayakan pada 12 Oktober 2014. Banyak folllowers @iloveaceh yang mencapai 50.000 orang lebih setuju dengan ide perayaan #SangerDay.
Menurut Fahmi, sanger pertama kali muncul pada  1997 di warung kopi Atalanta, kawasan Ulee Kareng, pinggiran Banda Aceh. Waktu itu, Indonesia sedang diterjang krisis moneter  dahsyat sehingga harga-harga melonjak. Kedai kopi itu menjadi tempat nongkrong aktifis mahasiswa, sambil menikmati kopi.
“Mahasiswa yang tak kuat minum kopi hitam coba negosiasi dengan pemilik warung. Mau pesan kopi susu, nggak sanggup bayar karena  mahal. Lalu, mereka memesan kopi dengan mengurangi susu, tapi ditambah sedikit gula pasir,” katanya.
“Kesepakatan atas dasar saling pengertian atau sama-sama ngerti antara pemilik warung dan mahasiswa. Lama kelamaan ungkapan 'sama-sama ngerti' disingkat menjadi sanger. Setiap mahasiswa pesan sanger, pemilik warung sudah ngerti dan tak perlu bertanya lagi.”

Wisata kuliner
Bagi Devi Pratiwi, Duta Wisata Aceh 2014, #SangerDay punya makna tersendiri. Mahasiswi Universitas Syiah Kuala itu berjanji akan mempromosi sanger sebagai bagian wisata kuliner Aceh. Apalagi “saya suka minum sanger karena rasanya enak,” ujarnya.
General Manager Hermes Hotel, Octowandi yang ikut nimbrung pada acara #SangerDay, berkomentar soal perlunya sanger dipatenkan karena “ini produk asli Aceh”. Dia  berharap ada standar sanger di setiap warung kopi. “Kalau rasa mungkin berbeda antara satu warung dan warung lain, tapi minimal ada standar minimumnya,” katanya.
Warung kopi yang bertebaran di hampir setiap sudut kota Banda Aceh menjadikan sanger – selain juga kopi tentunya – sebagai sajian khas sehingga warga dari berbagai kalangan dan profesi betah nongkrong berjam-jam. Apalagi, sebagian besar warung kopi menyediakan fasilitas wifi internet gratis pasca-rekonstruksi tsunami yang melanda Aceh, 26 Desember 2004.
Kalangan aktifis masyarakat sipil dan politisi sering bertukar pikiran dan menggelar diskusi di warung kopi sambil menikmati sanger atau kopi. Banyak deal dan lobi-lobi proyek juga berlangsung di warung kopi. Hal sama  dilakukan kaum muda dan mahasiswa hingga larut malam dengan ditemani sanger atau kopi, sambil menjelajahi dunia maya, sekadar chatting atau mencari bahan kuliah.
Sanger bisa disaji panas maupun dingin, tergantung selera. Harganya bervariasi antara Rp 5.000 hingga 8.000 untuk kopi Robusta. Sedangkan sanger kopi Arabika, sedikit mahal. Dalam beberapa tahun terakhir, mulai muncul warung kopi luwak di Banda Aceh. Tentu, harga secangkir sanger kopi luwak lebih mahal lagi.
“Sanger rasanya unik, tak terlalu manis dan tidak pahit. Menurut saya, sanger aman untuk lambung,” kata Danurfan, penikmat kopi yang ikut merayakan #SangerDay. Dia mengaku, hari Minggu itu, menghabiskan sembilan cangkir kopi dan dua gelas sanger.
Selain sanger, masih banyak kuliner Aceh lain yang tak boleh dilewatkan. Sebut saja ayam tangkap – ayam kampung muda yang digoreng dengan bumbu dan rempah-rempah khas. Ada juga kari kambing kuah beulangong, yang dimasak dalam belanga besar. Di beberapa warung nasi pinggir jalan, kari kambing ditambah ganja sebagai bumbu penyedap sehingga daging lebih empuk dan nikmat rasanya.[]
“Every Day is Sanger Day” “Every Day is Sanger Day” Reviewed by Nurdin Hasan on October 15, 2014 Rating: 5

No comments:

Ads

Powered by Blogger.