Facebook

Gerakan Anak Muda Melek Politik

BY NURDIN HASAN

Banda Aceh, TAG – Lima kelompok membuat visi, misi, dan program “partai“. Topiknya: pemberdayaan perempuan. Tiap kelompok beranggotakan 10 orang. Duduk di lantai, mereka serius berdiskusi, menyampaikan ide dan pendapat. Kesepakatan bersama ditulis di selembar kertas karton. Setiap kelompok juga harus memilih dua anggota sebagai “calon anggota legislatif (caleg).”

Setelah berembuk 20 menit, “ketua partai dan calegnya” mengampanyekan visi, misi dan program di hadapan 200-an peserta roadshow Parlemen Muda Indonesia yang digelar di Aula Balai Kota Banda Aceh, 31 Agustus 2013. Pesertanya, pemuda Aceh berusia 15 hingga 30-an tahun. Mereka terdiri dari pelajar, mahasiswa, aktifis hingga politisi muda, sebagian besar perempuan.
Saat penyampaian visi, misi dan program, juga diselingi yel-yel agar peserta memilih “partai” mereka, seperti layaknya kampanye partai politik peserta pemilihan umum (pemilu). Partai Pelajar Muda misalnya ingin mewujudkan masyarakat madani. Partai Bersama Menjaga Martabat mau mewujudkan masyarakat bermartabat, cerdas dan dinamis. “Tiga partai” lain hampir saja juga mengusung program menyejahterakan rakyat.
Sebelum simulasi yang merupakan puncak acara roadshow parlemen muda, peserta dibekali materi tentang maksud kegiatan dan sistem politik Indonesia yang disampaikan dua narasumber. Mereka adalah aktifis Indonesian Future Leaders, organisasi nonprofit yang bergerak di bidang pemberdayaan pemuda untuk perubahan sosial.
Gigay Citta Acikgenc, 20 tahun, menyatakan bahwa parlemen muda Indonesia ialah sebuah gerakan nasional independen yang tak berafiliasi dengan partai politik, untuk mencoba menggugah kepekaan dan pemahaman pemuda agar terlibat dalam politik.
Parlemen muda adalah program advokasi Indonesian Future Leaders, yang didukung UN Habitat. Aceh termasuk 11 provinsi yang dikunjungi parlemen muda tahun ini.
“Terlibat tidak harus masuk ke partai politik. Sebenarnya orang-orang di luar partai politik, banyak yang concern terhadap kondisi politik dan demokrasi Indonesia untuk lebih berkualitas secara substansi, bukan hanya sekadar demokrasi prosedural,” kata mahasiswi Filsafat di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, ini.
Andhyta Firselly Utami, 21 tahun, memancing peserta menyampaikan untuk pendapatnya dengan tiga pertanyaan yaitu apa politik dan pengaruhnya serta masalah utama di Aceh sebelum memaparkan materi mengenai pentingnya pemuda Indonesia peka dan memahami politik.
Setelah mendengarkan berbagai komentar dan pendapat peserta, Andhyta yang baru meraih gelar sarjana Hubungan Internasional di Universitas Indonesia menyatakan bahwa pemuda Indonesia harus optimis mewujudkan perubahan ke arah lebih baik karena “kita punya kekuatan berpolitik melalui jejaring media sosial seperti twitter, Facebook dan lain-lain.”
“Kita harus yakin sistem politik bisa dibenahi karena kita akan menjadi pemimpin masa depan. Parlemen muda juga menjadi ajang konsolidasi para pemuda Indonesia untuk menyuarakan aspirasi ke pengambil kebijakan,” kata aktifis perempuan yang banyak terlibat dalam kegiatan pemberdayaan pemuda.
Gigay yang menjabat Executive Director Parlemen Muda ketika diwawancarai menyatakan, roadshow parlemen muda yang digelar sejak 2012 lalu bertujuan untuk menyatukan suara pemuda Indonesia agar didengar oleh stakeholders dan pengambil kebijakan di negeri ini. Selain itu, untuk mengajak pemuda Indonesia peka dan paham politik.
“Pada 25 – 31 Januari 2014 akan digelar sidang nasional parlemen muda di Jakarta. Anggotanya 34 pemuda dari seluruh provinsi di Indonesia. Dalam sidang itu, seluruh aspirasi pemuda Indonesia akan dibicarakan. Kemudian petisinya akan diserahkan ke pemerintah,” katanya.
“Target jangka panjang adalah pemuda mau menjadi anggota dewan sehingga mereka bisa terlibat langsung untuk membenahi perpolitikan Indonesia ke arah lebih baik,” katanya.
Wakil Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, saat menyampaikan sambutan ketika membuka roadshow parlemen muda berharap pemuda dapat berada di garda terdepan untuk menyukseskan pemilu legislatif dan pemilihan presiden, tahun 2014, demi mewujudkan Indonesia ke arah yang lebih baik.
“Usia muda harus dimanfaatkan secara baik untuk berbuat demi kepentingan bangsa kita. Pemuda harus bangkit untuk terlibat dalam pembangunan Indonesia karena di tangan para pemudalah nanti bangsa ini diserahkan,” kata Illiza, perempuan politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Ia menyatakan, realita yang terjadi ada sebagian pemuda Indonesia peduli terhadap berbagai persoalan bangsa melalui kegiatan-kegiatan kreatif, produktif, dan inovatif serta memiliki sikap dan jati diri, tapi ada juga yang pasif dan tidak peduli.
“Pemuda Indonesia tak boleh galau karena orang-orang yang galau tidak akan masuk surga. Pemuda Indonesia, khususnya pemuda Aceh, harus tanggap dengan masalah-masalah kemasyarakatan,” katanya.
Rizka Nadya, 22 tahun, seorang dokter muda, mengatakan, parlemen muda punya nilai positif karena mengajak pemuda peka dan memahami berbagai persoalan bangsa, untuk selanjutnya bersama terlibat memperbaikinya.
“Parlemen muda penting bagi anak muda Aceh karena selama ini praktik politik tidak beretika terjadi di sini. Di Aceh juga terjadi kerusakan ekosistem dan lingkungan dan persoalan pelanggaran hak asasi manusia yang belum terselesaikan. Semua itu harus menjadi perhatian pemuda Aceh untuk ikut terlibat,” kata Rizka.
Perempuan yang sehari-hari sibuk sebagai dokter koas di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh mengaku, belum memikirkan berkecimpung dalam politik praktis. “Tetapi, kalau nanti situasi menuntut bisa saja saya masuk partai politik dan mencalonkan diri sebagai anggota dewan,” katanya.
Asiah Uzia, perempuan aktifis yang menjadi calon legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh dalam pemilu 2014, menyatakan roadshow parlemen muda bagus karena selama ini ruang keterlibatan pemuda dalam politik sangat sedikit di Aceh.
“Semoga ke depan anak muda Aceh lebih peduli pada politik dan berbagai persoalan kebijakan publik di tengah kesibukan mereka belajar. Kita tak ingin cara berpolitik ala preman merasuki pemuda Aceh. Kita harap mereka kritis untuk bersama membenahi kondisi yang ada,” katanya.
Sedangkan, Maulidar Yusuf, 21, perempuan aktifis kemanusiaan menyatakan, ikut kegiatan karena ingin tahu lebih banyak mengenai politik dan demokrasi Indonesia. “Sebenarnya politik bukan hanya milik politisi, tapi milik semua kalangan. Pemuda harus ikut terlibat untuk memperbaiki kondisi bangsa,” katanya.[]
Gerakan Anak Muda Melek Politik Gerakan Anak Muda Melek Politik Reviewed by Nurdin Hasan on September 22, 2013 Rating: 5

No comments:

Ads

Powered by Blogger.