Facebook

Saman Saraingi


Darussalam, TAG – Dua kelompok pemuda berpakaian adat Gayo Lues yang warna-warni duduk saling berhadapan di panggung. Kelompok pertama yang berjumlah 13 orang adalah mahasiswa asal Gayo Lues yang sedang meminba ilmu di Banda Aceh. Sedangkan, kelompok kedua ialah yang khusus didatangkan dari Blang Keujeuren, ibukota Gayo Lues. Jumlahnya 11 orang.


Para pemuda itu adalah penari Saman. Mereka menampilkan tarian tradisional Gayo Lues sesuai aslinya semalam suntuk, mulai Sabtu malam pukul 22.00 Wib hingga pukul 04:00 Wib Minggu dinihari di Gedung Academy Activity Center (AAC) Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Lebih 10.000 orang memadati gedung untuk menyaksikan ‘Saman Saraingi’ (Saman semalam suntuk). Semua kursi terisi. Ratusan penonton rela berdesakan, karena ini untuk pertama kalinya Saman Saraingi ditampilkan di luar kabupaten Gayo Lues.

Pertujukan ini dipentaskan dalam rangka pelantikan pengurus Himpunan Pemuda Pelajar dan Mahasiswa Gayo Lues. Selain itu untuk memeriahkan Visit Banda Aceh Year 2011 yang telah dicanangkan awal tahun ini. Sejumlah turis mancanegara ikut berbaur bersama ribuan warga Aceh yang memadati gedung di komplek kampus Universitas Syiah Kuala itu.

Saman adalah tarian tradisional Gayo Lues untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Syair yang diperdengarkan biasanya dalam bahasa Arab dan Gayo atau Aceh. Konon tarian ini diciptakan oleh Syekh Saman, seorang ulama besar Gayo pada zaman dulu untuk menyiarkan agama Islam kepada masyarakat melalui tarian sehingga syairnya sarat pesan agama dan nasihat.

Diiringi tabuhan rapa’i, kedua kelompok saling berbalas pantun berisikan nasihat dan seruan untuk berbuat kebaikan. Pada saat bersamaan, badan mereka bergerak ke kiri ke kanan, meliuk-liuk ke depan dan belakang. Tangan penari tidak henti-hentinya bergerak ke atas, bawah, kiri kanan dan sesekali menepuk dadanya. 

Semua gerakan serentak. Saat seorang bergerak ke depan, rekan di sisinya meliuk ke belakang. Bila yang pertama meliuk ke kanan, kawannya bergerak ke kiri. Tepuk tangan beberapa kali membahana dari arah penonton.

Setelah lebih satu jam berbalas pantun dan meliuk-liuk tubuh mereka, dua orang perempuan datang mengipas-ngipas bagian belakang penari dengan sehelai kain. Lalu, semangat penari yang sempat kendor kembali menggebu. Gerakan tubuh serta tangan mereka semakin cepat. Karena gerak tangan yang cepat Saman juga dijuluki  sebagai tarian Seribu Tangan.


Menurut Rajab Bahri, seorang pakar Saman asal Gayo Lues yang jadi pemandu Saman Saraingi itu, perempuan yang mengipas para penari sebagai pertanda untuk memberikan semangat kepada kelompok dukungannya.

“Dengan adanya penyemangat seperti ini, penari akan terus berjuang untuk tampil maksimal. Apalagi biasanya kalau ditampilkan di Gayo Lues, ada yang keluar sebagai pemenang karena Saman dipertandingkan,” jelasnya.

“Semua penari Saman adalah laki-laki dalam jumlah ganjil. Itu menandakah satu dari mereka adalah imam. Tak pernah tarian Saman dimainkan oleh perempuan. Saman yang asli penuh nasihat untuk berbuat kebaikan.”

Ibnu Hasim, Bupati Gayo Lues, dalam sambutan sebelum acara Saman Saraingi dimulai menyatakan tarian Saman telah didaftarkan di UNESCO untuk menjadi salah satu warisan budaya dunia. “Saman berada pada posisi pertama dari 200 tarian dari seluruh dunia,” katanya.

“Syarat mendaftar di UNESCO adalah Bupati Gayo Lues harus bisa bermain Saman dan pemerintah harus selalu membinanya agar Saman tidak musnah. Dan tampil malam ini adalah bagian pengenalan tarian Saman sesuai aslinya.”

Dia juga menjelaskan, pihaknya dalam waktu dekat akan mempertunjukkan Saman Saraingi di Jakarta. Dengan begitu, tarian Saman yang asli akan terus berkembang. Apalagi, di sejumlah sekolah luar Aceh telah mulai diajarkan tentang tarian Saman. Beberapa jurusan seni di sejumlah universitas juga memasukkan tarian ini dalam kurikulum, katanya.

Di Gayo Lues, tambahnya, terdapat dua jenis tarian Saman yaitu Saman Saraingi dan Saman Roaingi (tarian Saman yang dimainkan selama dua hari dua malam).

“Saman Saraingi adalah tarian yang dimainkan antarkampung terdekat. Tujuannya bukan untuk mencari persahabatan, tetapi sekadar buat hiburan. Sedangkan Saman Roaingi bertujuan mencari persahabatan dan biasanya ditampil antarkampung yang agak jauh. Ini akan tampil dua malam dua hari penuh.”



Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, menyatakan tarian Saman telah dikenal hingga ke sejumlah negara Asia, Amerika Serikat dan Eropa karena dalam gerakannya memiliki keindahan yang serasi, karena mengandalkan keserasian dan kelincahan secara bersama-sama diiringi syair penuh nasihat.

“Dari awal hingga akhir, gerakan dalam Saman butuh energi dan kontemplasi yang tinggi dari seluruh pemain. Tidak ada gerakan dalam Saman yang kosong dari dimensi estetis sehingga Saman diterima dan dapat dimainkan oleh seluruh bangsa di dunia. Jadi, boleh dikatakan Saman ialah tarian yang cocok untuk jiwa seni manusia di seluruh dunia,” katanya.

“Rasa seni yang mendalam dalam tarian Saman terlihat dari kecintaan anak-anak Gayo dalam kehidupan mereka. Di Gayo Lues sering dijumpai anak-anak gembala kerbau memperagakan tarian ini sambil memandikan kerbau. Mereka membaris kerbau di pinggri sungai, lalu sambil duduk di punggung binatang gembalaannya merek dendangkan syair-syair tarian Saman sambil memainkan gerakan tarian.”

Nazar menambahkan apabila melihat gerakan dalam tarian Saman, maka tidak ada alasan bagi masyarakat dataran tinggi Aceh bagian tengah untuk tak bergerak cepat mengejar ketertinggalan dalam pembangunan.

“Saya sangat mengharapkan masyarakat di dataran tinggi Gayo untuk bergerak cepat, dinamis dan agresif seperti yang terdapat dalam tarian Saman untuk dapat membangun daerah ke arah lebih baik demi kemakmuran masyarakat,” katanya.

Di sela-sela Saman Saraingi juga diselingi berbagai atraksi dan tarian asal Gayo Lues. Selain itu, ditampilkan Fikar W. Eda, seorang penyair Aceh asal Aceh Tengah, yang membacakan puisi Saman. Tepuk tangan bergemuruh ketika bait-bait puisi Fikar menyintil ketakadilan yang diterima warga pedalaman Aceh bagian tengah.

Juga ditampilkan 13 penari yang semua rambutnya sebahu direbonding sehingga ketika gerakan mereka cepat, gerakan rambut menjadi tontonan menarik. Pada saat bersamaan, empat orang dengan rencong di tangan menusuk-nusuk bagian tubuh mereka.

Hentakan musik rapa’i, syair puja-puji sarat nilai-nilai agama Islam serta serune kalemengiringi permainan keempat pendabus dan 12 penari Saman yang bergerak bersamaan. Penampilan ini benar-benar memukau ribuan penonton yang beberapa kali berdiri memberi tepuk tangan meriah. DAHSYAT, luar biasa… Salute untuk warga Gayo...!!! []


Saman Saraingi Saman Saraingi Reviewed by Nurdin Hasan on March 20, 2011 Rating: 5

No comments:

Ads

Powered by Blogger.